BERITAJakarta Terendam: Banjir Bandang Luluhlantakkan Ibu Kota, Ribuan Mengungsi, Kerugian Milyaran Rupiah

Jakarta Terendam: Banjir Bandang Luluhlantakkan Ibu Kota, Ribuan Mengungsi, Kerugian Milyaran Rupiah

PenulisTim Redaksi
Diterbitkan26 Januari 2026
Jakarta Terendam: Banjir Bandang Luluhlantakkan Ibu Kota, Ribuan Mengungsi, Kerugian Milyaran Rupiah
Rescue workers navigate floodwaters in a boat.
Foto: Iqro Rinaldi (Unsplash)

Jakarta kembali bertekuk lutut di hadapan amukan banjir bandang yang melanda hampir seluruh wilayahnya pada awal tahun ini. Hujan deras yang mengguyur tanpa henti selama lebih dari 48 jam telah memicu meluapnya sejumlah sungai besar, termasuk Ciliwung, Citarum, dan Cisadane, merendam permukiman warga hingga ketinggian mencapai dua meter di beberapa titik. Peristiwa ini tidak hanya menyebabkan ribuan warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, tetapi juga diperkirakan menimbulkan kerugian materiil yang mencapai angka milyaran rupiah, melumpuhkan aktivitas ekonomi, dan menyoroti kembali kerentanan ibukota negara terhadap bencana hidrometeorologi.

Analisis Intensitas Curah Hujan dan Faktor Pemicu

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa curah hujan yang turun selama periode tersebut melampaui rata-rata bulanan secara signifikan. “Kami mendeteksi adanya pola sirkulasi siklonik yang kuat di sekitar Laut Jawa, yang menarik massa udara lembab dari lautan luas ke wilayah Jakarta dan sekitarnya,” ujar Dr. Anya Lestari, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, dalam konferensi pers darurat. “Kondisi ini diperparah oleh fenomena La Niña yang masih berlanjut, meningkatkan potensi hujan ekstrem di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Jakarta.”

Selain faktor meteorologis, para ahli juga menyoroti peran faktor antropogenik yang memperparah dampak banjir. Intensifikasi pembangunan di kawasan hulu dan hilir sungai, berkurangnya resapan air akibat alih fungsi lahan menjadi permukiman dan area komersial, serta sistem drainase perkotaan yang belum optimal menjadi kontributor utama. “Jakarta telah kehilangan banyak ruang terbuka hijau dan daerah resapan air. Vegetasi yang mampu menyerap air hujan semakin berkurang, sehingga air hujan langsung mengalir ke sungai dan memicu luapan,” jelas Prof. Budi Santoso, seorang pakar tata kota dari Universitas Indonesia.

Dampak Sosial: Ribuan Jiwa Mengungsi, Krisis Kemanusiaan Mengancam

Gelombang air bah yang merendam ratusan ribu rumah memaksa warga meninggalkan harta benda mereka demi keselamatan. Data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyebutkan bahwa lebih dari 200.000 jiwa terpaksa mengungsi di berbagai titik pengungsian darurat, seperti gedung sekolah, balai warga, dan tenda-tenda darurat yang didirikan di area yang lebih tinggi. Kondisi di pengungsian dilaporkan mulai menunjukkan tanda-tanda krisis kemanusiaan, dengan keterbatasan pasokan air bersih, sanitasi, dan makanan.

“Kami hanya sempat membawa pakaian di badan. Semua barang-barang kami tenggelam, tidak tersisa apa-apa,” tutur Ibu Ani, salah seorang pengungsi di GOR Cempaka Putih, Jakarta Pusat, dengan mata berkaca-kaca. “Anak-anak saya kedinginan, mereka butuh selimut dan susu. Kami sangat berharap bantuan segera datang.” Para relawan dari berbagai organisasi kemanusiaan bekerja tanpa lelah untuk mendistribusikan bantuan, namun skala bencana membuat upaya tersebut terasa belum mencukupi.

Dampak Ekonomi: Lumpuhnya Aktivitas Bisnis dan Kerugian Milyaran Rupiah

Banjir kali ini tidak hanya melumpuhkan kehidupan sosial, tetapi juga menghantam keras roda perekonomian Jakarta. Sejumlah kawasan bisnis, pusat perbelanjaan, dan perkantoran terendam air, memaksa operasional terhenti total. Lalu lintas di berbagai ruas jalan utama lumpuh total, mengakibatkan kemacetan parah yang meluas hingga ke daerah penyangga. Kerugian diperkirakan mencapai triliunan rupiah akibat rusaknya aset, terganggunya rantai pasok, dan hilangnya pendapatan selama periode bencana.

“Kami memperkirakan kerugian langsung akibat banjir ini bisa mencapai lebih dari Rp 5 triliun, belum termasuk kerugian tidak langsung seperti hilangnya produktivitas dan terganggunya investasi,” ungkap Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (API), Bapak Surya Wijaya. “Banyak UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal kami harus menanggung kerugian besar, bahkan ada yang bangkrut. Ini pukulan telak bagi pemulihan ekonomi pasca-pandemi.” Bank Indonesia juga mengkhawatirkan dampak banjir terhadap inflasi dan stabilitas ekonomi makro jika penanganannya tidak dilakukan secara cepat dan efektif.

Upaya Penanggulangan dan Evakuasi: Respons Cepat Pemerintah dan Relawan

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama dengan TNI, Polri, dan berbagai instansi terkait telah mengerahkan seluruh sumber daya untuk melakukan upaya penanggulangan banjir. Tim SAR gabungan bekerja keras mengevakuasi warga yang terjebak di rumah mereka, menggunakan perahu karet dan alat berat. Posko-posko pengungsian didirikan di berbagai lokasi strategis, dilengkapi dengan fasilitas medis, dapur umum, dan layanan psikososial.

“Kami mengerahkan seluruh personel dan peralatan yang kami miliki untuk menyelamatkan warga yang terdampak,” ujar Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol. Karyadi, saat meninjau langsung lokasi banjir. “Prioritas utama kami adalah keselamatan jiwa. Kami juga terus berkoordinasi dengan BMKG dan badan penanggulangan bencana untuk memantau perkembangan situasi dan memberikan informasi terkini kepada masyarakat.” Namun, kendala akses di beberapa wilayah yang terendam parah membuat upaya evakuasi dan distribusi bantuan menjadi semakin sulit.

Analisis Historis dan Perbandingan Banjir Jakarta

Banjir di Jakarta bukanlah fenomena baru. Sejarah mencatat bahwa ibukota negara ini telah berulang kali dilanda banjir besar, bahkan sejak era kolonial Belanda. Banjir tahun 1996, 2002, 2007, dan 2013 seringkali disebut sebagai banjir paling parah yang pernah terjadi. Namun, banjir kali ini menunjukkan skala dan intensitas yang mengkhawatirkan, bahkan melebihi beberapa bencana sebelumnya, terutama di wilayah yang sebelumnya tidak pernah tergenang.

Perbandingan dengan banjir-banjir sebelumnya menunjukkan adanya tren peningkatan frekuensi dan intensitas banjir. Hal ini erat kaitannya dengan perubahan iklim global yang menyebabkan peningkatan suhu permukaan laut dan pola cuaca ekstrem. Selain itu, urbanisasi yang tak terkendali dan penurunan muka tanah (subsidence) di Jakarta turut memperparah kerentanan kota ini terhadap genangan air. “Jakarta terus tenggelam, baik secara harfiah maupun metaforis. Penurunan muka tanah yang mencapai beberapa sentimeter per tahun, ditambah dengan naiknya permukaan air laut, membuat Jakarta semakin rentan terhadap banjir rob dan genangan air hujan,” jelas Prof. Santoso.

Solusi Jangka Panjang: Mitigasi Bencana dan Adaptasi Perkotaan

Menghadapi ancaman banjir yang semakin nyata, diperlukan langkah-langkah mitigasi dan adaptasi yang komprehensif dan berkelanjutan. Para ahli sepakat bahwa solusi jangka pendek seperti pengerukan sungai dan perbaikan drainase semata tidak akan cukup. Diperlukan pendekatan holistik yang mencakup pengelolaan tata ruang yang lebih baik, penegakan hukum terhadap pelanggaran sempadan sungai, dan revitalisasi daerah resapan air.

“Pembangunan tanggul raksasa dan sistem pompa air memang diperlukan, namun itu bukan solusi tunggal. Kita perlu mengembalikan fungsi ekologis kota, seperti memperbanyak Ruang Terbuka Hijau (RTH), membangun sumur resapan, dan menggalakkan program penghematan air,” ujar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, dalam sebuah diskusi daring. “Selain itu, kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan ke sungai juga krusial. Perlu ada edukasi yang masif dan berkelanjutan.” Pemerintah juga perlu terus berinovasi dalam sistem peringatan dini banjir dan rencana kontingensi yang lebih efektif.

Banjir Jakarta kali ini menjadi pengingat keras bahwa ancaman bencana hidrometeorologi semakin nyata dan mendesak. Diperlukan kerja sama yang kuat antara pemerintah, masyarakat, sektor swasta, dan akademisi untuk menciptakan Jakarta yang lebih tangguh dan berketahanan terhadap bencana. Tanpa tindakan nyata dan berkelanjutan, siklus banjir di ibukota negara ini kemungkinan besar akan terus berulang, membawa kerugian yang lebih besar di masa depan.

Bagikan Artikel:

ARTIKEL TERKAIT