BERITAEskalasi Konflik Israel-Hamas: Ancaman Stabilitas Global dan Gelombang Ketidakpastian

Eskalasi Konflik Israel-Hamas: Ancaman Stabilitas Global dan Gelombang Ketidakpastian

PenulisTim Redaksi
Diterbitkan20 Januari 2026

“`json
{
“title”: “Eskalasi Konflik Israel-Hamas: Ancaman Stabilitas Global dan Gelombang Ketidakpastian”,
“content”: “

Situasi di Timur Tengah kembali memanas secara signifikan, dengan eskalasi konflik antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza yang kini memicu gelombang ketidakpastian dan ancaman stabilitas regional serta global. Sejak serangan mengejutkan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan ribuan warga Israel dan penculikan sandera, diikuti oleh respons militer besar-besaran Israel di Gaza, kawasan ini terus terperosok dalam lingkaran kekerasan yang kian meluas. Konflik yang berpusat di Jalur Gaza, tempat lebih dari 30.000 warga Palestina tewas dan jutaan lainnya terancam kelaparan akibat blokade dan pembatasan bantuan, kini telah merembet ke berbagai titik panas lainnya, melibatkan aktor-aktor regional seperti Hizbullah di Lebanon, milisi pro-Iran di Suriah dan Irak, serta kelompok Houthi di Yaman yang menargetkan kapal-kapal dagang di Laut Merah. Kondisi ini menempatkan komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Amerika Serikat, dalam posisi sulit untuk meredakan ketegangan dan mencegah perang regional skala penuh.

Perkembangan terbaru menunjukkan intensifikasi serangan Israel di Rafah, bagian selatan Gaza yang sebelumnya dianggap sebagai zona aman, tempat ratusan ribu pengungsi Palestina berlindung. Operasi militer ini, yang diklaim Israel sebagai upaya terakhir untuk melumpuhkan Hamas, telah memicu kecaman keras dari berbagai negara dan organisasi kemanusiaan yang khawatir akan bencana kemanusiaan yang lebih parah. Fasilitas kesehatan di Gaza berada di ambang kehancuran total, dengan pasokan obat-obatan dan makanan yang sangat terbatas, sementara upaya mediasi untuk gencatan senjata dan pembebasan sandera terus menemui jalan buntu. Mesir dan Qatar, yang selama ini menjadi mediator utama, menghadapi tantangan besar dalam menjembatani perbedaan posisi antara Israel dan Hamas yang saling bertolak belakang mengenai syarat-syarat perdamaian.

Dampak domino dari konflik ini telah terasa jauh melampaui batas-batas Gaza. Di perbatasan utara Israel, baku tembak antara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan Hizbullah Lebanon telah meningkat secara signifikan, menimbulkan kekhawatiran akan front kedua yang lebih besar. Sementara itu, serangan Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina telah mengganggu rantai pasokan global, memaksa banyak perusahaan pelayaran mengubah rute melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, yang berakibat pada peningkatan biaya dan waktu pengiriman. “Situasi di Timur Tengah saat ini adalah salah satu yang paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir,” ujar Dr. Budi Santoso, pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia. “Ada risiko nyata konflik ini meluas menjadi perang regional yang lebih besar, dengan Iran dan sekutunya di satu sisi, dan Israel serta Amerika Serikat di sisi lain. Ini bukan lagi hanya tentang Gaza, tetapi tentang perebutan pengaruh geopolitik yang lebih luas.”

Respons internasional terhadap krisis ini juga terpecah belah. Amerika Serikat, meskipun mendukung hak Israel untuk membela diri, juga telah menyatakan keprihatinan mendalam atas jumlah korban sipil dan mendesak Israel untuk berhati-hati. Negara-negara Eropa menunjukkan beragam sikap, dengan beberapa menyerukan gencatan senjata segera dan pengakuan negara Palestina, sementara yang lain lebih mendukung Israel. Di sisi lain, negara-negara Arab dan mayoritas negara Muslim menyerukan penghentian agresi Israel dan penyelesaian konflik berdasarkan solusi dua negara. Kegag

Bagikan Artikel:

ARTIKEL TERKAIT