Aceh Terendam Banjir Bandang, Ribuan Warga Mengungsi Cari Perbekalan
Banda Aceh – Hujan deras yang mengguyur wilayah Aceh selama berhari-hari akhirnya memicu bencana banjir bandang di sejumlah kabupaten/kota, memaksa ribuan warga mengungsi dan meninggalkan harta benda mereka. Peristiwa yang terjadi sejak Selasa (25/10) dini hari ini telah meluluhlantakkan permukiman warga, merendam ratusan rumah, dan memutuskan akses transportasi di beberapa titik krusial. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh mencatat, banjir kali ini melanda kawasan dataran rendah yang dekat dengan bantaran sungai di sembilan kabupaten/kota, termasuk Aceh Besar, Pidie, Bireuen, dan Aceh Utara. Penyebab utama banjir ini adalah curah hujan ekstrem yang tidak mampu ditampung oleh sistem drainase dan sungai yang ada, diperparah oleh kondisi geografis yang sebagian besar merupakan daerah aliran sungai.
Gelombang Pasang Air Sungai Meluap Tak Terkendali
Curah hujan yang intensitasnya meningkat tajam sejak awal pekan ini menjadi pemicu utama meluapnya sejumlah sungai besar di Aceh. Sungai Peusangan, Krueng Aceh, dan Tamiang, yang merupakan urat nadi kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya, kini berubah menjadi ancaman mematikan. Air sungai yang biasanya tenang, kini bergelora membawa lumpur dan sampah, menerjang permukiman warga dengan kecepatan tinggi. Ketinggian air di beberapa lokasi dilaporkan mencapai lebih dari satu meter, membuat aktivitas warga lumpuh total. Banyak warga yang terkejut karena banjir datang begitu cepat, tanpa peringatan yang memadai. Mereka hanya sempat menyelamatkan diri, sementara rumah dan barang-barang berharga lainnya terendam.
“Kami tidak menyangka air akan naik secepat ini. Tadi malam masih aman, tapi subuh tadi tiba-tiba sudah masuk ke dalam rumah. Kami langsung lari menyelamatkan anak-anak,” ujar Fatimah, seorang warga Gampong Lambaro, Aceh Besar, dengan nada suara bergetar. Ia bersama keluarganya kini mengungsi di masjid setempat, hanya berbekal pakaian yang melekat di badan.
Ribuan Jiwa Terpaksa Mengungsi, Kondisi Kemanusiaan Mendesak
Ribuan warga dari berbagai wilayah yang terdampak kini terpaksa mengungsi di tempat-tempat yang lebih tinggi, seperti masjid, balai desa, dan tenda-tenda darurat yang didirikan oleh tim SAR dan relawan. Kebutuhan mendesak yang dihadapi para pengungsi meliputi makanan siap saji, air bersih, obat-obatan, pakaian layak pakai, dan selimut. Fasilitas sanitasi di lokasi pengungsian juga menjadi perhatian serius, mengingat jumlah pengungsi yang terus bertambah. Keterbatasan logistik menjadi tantangan utama bagi pemerintah daerah dan berbagai lembaga kemanusiaan yang berupaya memberikan bantuan.
Kepala Pelaksana BPBD Aceh, Ir. Muhammad Syah, menyatakan bahwa pihaknya terus berupaya mendata jumlah korban dan mendistribusikan bantuan. “Kami mengerahkan seluruh sumber daya yang ada. Tim SAR gabungan terus bekerja tanpa henti untuk mengevakuasi warga yang terjebak dan menyalurkan bantuan. Namun, skala bencana kali ini cukup besar, sehingga membutuhkan dukungan dari semua pihak,” tuturnya dalam konferensi pers darurat. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, mengingat prakiraan cuaca masih menunjukkan potensi hujan tinggi.
Infrastruktur Rusak Parah, Akses Terputus
Banjir bandang ini tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga mengakibatkan kerusakan parah pada infrastruktur vital. Jembatan-jembatan penghubung di beberapa daerah dilaporkan ambruk atau rusak berat, memutus akses transportasi antar desa dan antar kabupaten. Jalan raya utama di beberapa titik terendam air dengan kedalaman yang bervariasi, menyebabkan kelumpuhan total arus lalu lintas. Hal ini tentu saja memperlambat upaya evakuasi dan distribusi bantuan kepada para korban.
Di Kabupaten Pidie, misalnya, sebuah jembatan gantung yang menjadi satu-satunya akses bagi ratusan kepala keluarga di Kecamatan Tangse dilaporkan hanyut terbawa arus. Hal serupa terjadi di Aceh Utara, di mana beberapa ruas jalan lintas nasional terpaksa ditutup total karena tergenang air. “Kami sangat kesulitan untuk mendapatkan pasokan makanan dan kebutuhan pokok lainnya. Kami berharap pemerintah segera memperbaiki jembatan dan jalan yang rusak ini,” ujar salah seorang warga Tangse yang enggan disebutkan namanya.
Dampak Lingkungan dan Ancaman Penyakit Pasca-Banjir
Selain kerugian materiil dan korban jiwa, bencana banjir ini juga meninggalkan dampak lingkungan yang signifikan. Lumpur tebal yang mengendap di permukiman warga dapat mencemari sumber air bersih dan lahan pertanian. Sampah yang terbawa arus sungai juga berpotensi menyumbat saluran air dan memperparah kondisi di masa mendatang. Ancaman penyakit pasca-banjir juga menjadi kekhawatiran utama. Air yang tergenang dalam waktu lama dapat menjadi sarang nyamuk penyebab demam berdarah, serta penyakit kulit dan infeksi saluran pencernaan.
Dokter spesialis penyakit menular dari Dinas Kesehatan Aceh, dr. Aisyah, mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan diri pasca-banjir. “Warga yang mengungsi harus dipastikan mendapatkan air bersih dan sanitasi yang memadai. Kami juga akan melakukan fogging di area yang terdampak untuk mencegah penyebaran penyakit. Edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan penyakit pasca-banjir juga sangat penting,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa ketersediaan obat-obatan dasar di posko-posko pengungsian menjadi prioritas utama saat ini.
Peran Teknologi dan Mitigasi Bencana Jangka Panjang
Bencana banjir yang berulang kali melanda Aceh ini kembali menyoroti urgensi peningkatan sistem peringatan dini dan upaya mitigasi bencana jangka panjang. Pemanfaatan teknologi informasi, seperti sensor ketinggian air sungai dan aplikasi pemantauan cuaca, dapat dioptimalkan untuk memberikan peringatan dini yang lebih akurat dan tepat waktu kepada masyarakat. Selain itu, program penghijauan di daerah hulu sungai dan penataan ruang yang lebih baik juga menjadi kunci untuk mengurangi risiko banjir di masa mendatang.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan respons darurat. Perlu ada langkah-langkah strategis yang komprehensif untuk meminimalkan dampak bencana. Ini termasuk penegakan hukum terhadap pelaku perambahan hutan, reboisasi, serta pembangunan infrastruktur pengendali banjir yang memadai,” ujar seorang akademisi dari Universitas Syiah Kuala yang fokus pada kajian kebencanaan, Dr. Ridwan. Ia juga menekankan pentingnya pelibatan masyarakat dalam setiap tahapan perencanaan dan pelaksanaan program mitigasi bencana agar lebih efektif dan berkelanjutan.
Evaluasi dan Pelajaran dari Bencana
Setiap bencana yang terjadi sejatinya adalah sebuah pelajaran berharga. Banjir yang melanda Aceh kali ini kembali menunjukkan kerentanan wilayah ini terhadap perubahan iklim dan pengelolaan lingkungan yang belum optimal. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem penanggulangan bencana yang ada, mulai dari kesiapsiagaan hingga penanganan pasca-bencana, mutlak diperlukan. Kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, masyarakat, sektor swasta, dan lembaga non-pemerintah menjadi kunci utama dalam membangun ketangguhan bencana di Aceh.
Pemerintah daerah diharapkan dapat meninjau kembali tata ruang wilayah, terutama di kawasan rawan banjir, serta memastikan pembangunan infrastruktur dilakukan dengan mempertimbangkan aspek kebencanaan. Masyarakat juga perlu terus diedukasi mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan kesiapan menghadapi bencana. Dengan langkah-langkah yang terencana dan berkelanjutan, diharapkan Aceh dapat lebih tangguh dalam menghadapi ancaman bencana di masa depan.
ARTIKEL TERKAIT
